Banggalah Menjadi Seorang Guru "Refleksi Di Hari Guru Nasional 2023"| Stevi Lewaherilla
Jika ditanya siapa guru yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya saat ini, maka ia adalah Bu Hana Paul, guru saya sewaktu SMA dulu. Sosoknya begitu membekas di hati, bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena kewibawaan dan keteladanannya.
Pada masa awal
kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, guru adalah sosok yang begitu mulia dan
diagungkan, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Di sekolah, guru
begitu dihormati dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, sedangkan di lingkungan
masyarakat guru menjadi rujukan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun
pemikiran.
Posisi guru yang begitu agung tersebut bukanlah tanpa sebab. Pasalnya, guru pada saat itu sangatlah menjadi panutan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
Slogan
“Guru; digugu dan ditiru” benar-benar melekat pada dirinya, bukan sekadar
ungkapan tanpa makna. Bahkan masyarakat tidak akan melihat mata pelajaran apa
yang diampu oleh guru tersebut, asalkan dia adalah seorang guru maka masyarakat
akan sepakat bahwa ia bisa diandalkan.
Namun,
dewasa ini slogan digugu dan ditiru perlahan mulai luntur dari diri sebagian
besar guru di negeri ini. Tidak sedikit dari mereka yang dalam
menjalankan profesinya hanya sebatas untuk menggugurkan tugas, dan terjebak
pada rutinitas mengajar yang kadang minim akan pemaknaan.
Ungkapan
guru sebagai orang yang bisa digugu dan ditiru maknanya amatlah dalam. Digugu
memiliki arti dipercaya atau dipatuhi, sedangkan ditiru berarti diikuti atau
diteladani. Sudah sepatutnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Segala
penyampaian dari guru haruslah sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan
kepada setiap yang mendengarnya, dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi
contoh bagi setiap yang melihatnya.
Kemampuan
guru untuk bisa digugu dan ditiru erat kaitannya dengan empat kompetensi yang
harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Pada hakikatnya,
jika empat kompetensi tersebut dimiliki oleh guru, maka predikat digugu dan
ditiru dengan sendirinya akan mengikut pada diri guru tersebut.
Agar bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang hendak ia sampaikan. Tidak cukup dengan itu, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai metode dalam menyampaikannya.
Bagaimana mungkin seorang guru bisa meyakinkan
muridnya kalau ia lemah dalam pemahaman dan penyampaian. Maka seorang guru
harus senantiasa memperbaharui kompetensinya, baik dalam hal keilmuan maupun
metode pembelajarannya. Itulah kompetensi Pedagogik dan kompetensi profesional.
Selain bisa dipercaya dan dipatuhi, seorang guru haruslah bisa menjadi teladan atau panutan. Dan inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari peran seorang guru dalam pendidikan. Banyak guru yang berhasil mengajar muridnya hingga menjadi orang pintar, namun hanya sedikit di antara mereka yang bisa mencetak generasi yang berakhlak mulia.
Ironisnya lagi, sebagian dari guru di republik
ini malah mempertontonkan sikap yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang
guru. Tengok saja data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),
seperti dilansir keterangan tertulis Kemendikbud, Selasa (14/10/2023), di mana
sepanjang tahun 2023 terdapat 2,355 kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan
pendidikan. Hal ini menunjukkan betapa guru sudah sangat jauh dari keteladanan.
Bagaimana
mungkin pendidikan kita akan melahirkan generasi yang unggul jika gurunya tidak
mampu memberikan keteladanan, baik dalam ucapan, pemikiran, maupun
perbuatannya. Bangsa ini tengah dilanda krisis keteladanan, maka guru harus
mampu berdiri paling depan untuk memberi keteladanan.
Siapa pun dia, jika telah memilih profesi guru sebagai jalan hidupnya, maka ia harus siap mengembalikan profesi mulia tersebut pada khittahnya. Seorang guru haruslah memiliki kepribadian yang dewasa, luhur, berwibawa, dan mulia akhlaknya.
Selain
itu, melalui kemampuan komunikasinya, guru juga harus mampu menciptakan
hubungan yang baik dalam setiap interaksinya, baik interaksi dengan warga
sekolah maupun warga masyarakat secara umum. Itulah kompetensi kepribadian dan
kompetensi sosial.
Melalui peringatan Hari Guru Nasional tahun 2023 ini, sebagai guru mari kita mengintrospeksi diri, sejauh mana kita bisa menjadi figur yang mampu menginspirasi. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa ini dititipkan, maka hadirnya guru sudah selayaknya memberi kehangatan, perkataannya memberi pencerahan, dan sikapnya penuh keteladanan. Itulah hakikatnya seorang pahlawan. Selamat hari guru "Salam dari para guru SMA Kristen Tobelo, Halmahera Utara. Maluku Utara. Indonesia"

.png)
Posting Komentar
0 Komentar